Nama aslinya Ridwan (nama salah satu Malaikat Penjaga Surga), nama panggilan di rumahnya Dede, tapi gw dan teman-teman biasa manggil dia dengan sebuah nama yang “cool” yaitu, Abay.
 Sahabat
Pertama kali gw kenal Abay pada saat bulan puasa beberapa tahun yang lalu. Waktu itu anak Lebax’s dan Camp Java bergabung untuk “perang” petasan dengan anak Palapa. Saat itu kami masih kecil, mungkin sekitar umur 10/11 tahun, tapi biar umur masih muda, keingin tahuan kami sangat tinggi. Mungkin karena faktor umur kali ya, makanya kami dilarang untuk ikut dalam “perang” tersebut oleh Roman. Tapi karena keingintahuan yang sangat tinggi, hingga membuat Abay kesel karena dilarang oleh Roman yang kebetulan pada saat itu lebih tua dari kami. Dari situlah kami berkenalan, dan berlanjut sampai saat ini.
Banyak masa-masa indah dan suram yang telah kami lewati, kebetulan hobi kami waktu itu sama, suka Adzan dan Ber-shalawat untuk Nabi. Sampai-sampai kami dibilang “pasangan emas” kalau sedang bernyanyi, karena tehnik dan karakter vokal yang sama, bahkan ada yang bilang juga kami kembar atau kakak-adik.
Abay adalah salah satu Alumni SMP 239 yang terletak diujung Jl. Poltangan. Terkadang kalau dia pulang sekolah, gw suka buka-buka buku pelajarannya, iseng-iseng, kali aja ada yang bermanfaat buat dibaca. Trus dia juga sempat melanjutkan sekolah STMnya di STM TELADAN, tapi tidak diteruskan karena faktor biaya.
Tapi, malam ini gw kesepian, sedih, takut, bahagia, dilema, dan campur aduk semua perasaan gw.
Gw kesepian karena sahabat gw Abay yang tidak bisa menemani gw malam ini, karena biasanya kami pasti sedang tertawa atau diskusi dan bersenda-gurau seperti malam-malam biasanya.
Gw sedih karena sahabat gw Abay, tadi siang berangkat ke stasiun Jatinegara menuju Bojonegoro.
Gw takut karena gw gak mau kehilangan best friend gw.
Gw bahagia, karena dia akan mendapatkan pengalaman baru, yang sebelumnya gw juga pernah merasakannya.
Gw dilema, karena sebelumnya gw dan Abay sudah merencanakan untuk berangkat bersama kesana, tapi karena ada urusan pekerjaan di Jakarta, gw tidak bisa ikut dia, padahal gw pengen banget bertualang bersama lagi bareng dia seperti kami bertualang bersama di Semarang.
Sebelum dia berangkat, kami sempat diskusi malamnya. Soal bagaiman Krucil kedepannya nanti. Dan bagaiman kecewanya dia karena gw gak ikud bersama dia untuk bertualang ke Bojonegoro. Dalam lubuk hati gw juga sempat nyesel gak bisa ikut, karena malam itu Abay bener-bener menghibur gw sampe perut gw sakit. Apalagi ketika kami beli tiket untuk Habib Qusein di stasiun Gambir.
Ceritanya gw dan Abay naik busway kesana. Sampai di halte busway Duren Tiga, gw sempet nanya ke penjaga loketnya, soal rute mana saja yang kami lalui untuk ke Gambir dan harus Transit dimana. Trus dihalte kami sempat juga diskusi soal keberangkatan Krucil ke Bojonegoro. Sampai didalam kami bersenda-gurau bahkan sempat jadi pusat perhatian penumpang busway. Gimana gak jadi pusat perhatian, malam itu style kami berdua berbeda jauh banget, gw pake Sweater anak OI (Orang Indonesia, salah satu wadah bagi penggemar sang maestro Iwan Fals) sedangkan Abay pake jaket ala Charlie (Vokalis ST12). Udah gitu, didalem nggak berhenti-berhenti ngelawak terus dia.
Ketika sudah sampai di Transit Dukuh Atas, gw sempet bilang sama Abay, “Bay, enak juga ye naek busway, bisa cuci mata. Coba tiap hari kita begini, gak bakalan kena katarak kita…” sambil tersenyum, dan Abay pun menjawab, “iya bener banget loe Nas, katarak seh gak kena, paling-paling mata loe gak kompak alias jereng…he3x…” diikuti dengan tawa kami berdua. Ketika sampai di Halte Monas, ada kejadian yang gak bakalan gw lupa. Ceritanya kami mau turun, tapi karena pintu busway-nya hanya satu dan berada ditengah-tengah dan posisi kami pun berada di belakang, jadi kami harus jalan sedikit ke tengah. Ada seorang wanita setengah baya didepan Abay. Awalnya wanita ini biasa saja, tapi entah kenapa ketika melihat Abay, dia langsung menjempit tas-nya. Sambil berbisik, Abay berkata kepada gw, “emangnya tampang gw mirip copet apa nas…?” (dengan gaya bahasa Mpok Nori). Terang aja dia kesel, maka ketika mau ketengah, dia bilang permisi kepada wanita itu, tapi wanita itu tidak mendengar. Dengan nada bicara seperti Mpok Nori dia berkata “misi bu…!! saya bawa air panas nie…” terang aja rasa humor gw kepancing lagi, jadi gw tertawa agak sedikit lebar hingga membuat penumpang yang lain melihat kearah kami berdua.
Dan ketika turun di halte, sempet ada perasaan bingung. Yang pertama, halte tersebut tidak ada lampunya alias gelap. Yang kedua, kami tidak tahu harus keluar lewat mana, karena sistem pintunya seperti pintu masuk Dufan, yang kalo ditabrak baru bisa lewat. Nah, si Abay dengan gaya sok tahunya berjalan kearah pintu keluar, dia dorong-dorong itu pintu kok gak bisa-bisa katanya. Gw juga bego, ngintilin aja lagi dibelakangnya, karena masih mikirin kejadian di busway tadi. Tiba-tiba, tanpa kami duga ada seseorang yang berkata “pintu keluarnya disini mas…” (dengan nada nge-Bass) si Abay langsung berteriak latah bercampur kaget. Karena kami pikir disitu tidak ada orang, dan ternyata itu bukan pintu keluar, tetapi pintu. Pantesan nggak bisa didorong… Dasar wonk ndeso… Setelah keluar, tidak henti-hentinya kami tertawa mengingat kejadian itu.
Sampai diluar pun kembali kami diterpa kebingungan, masuk ke Monas lewat mana nieh? Soalnya dipagar semua, tidak seperti ketika pertama kali kami kesini, masuk bisa dari mana saja. Akhirnya kami muter kearah Gedung Indosat, disitu baru ada pintu masuk. Alhasil, dari halte busway Monas, kami jalan kaki ke stasiun Gambir lewat dalam Monas, sambil tak henti-hentinya ngelawak dijalanan…
Tapi sekarang, semua itu tinggal kenangan kami berdua. Karena petualangan kami dipisahkan sementara, kami harus menjalankan keseharian yang biasanya bersama, kali ini harus menjalankannya sendiri.
Tidak ada lagi gaya seperti Abay, yang selalu menghibur sahabat-sahabatnya dengan humor yang tidak pernah basi, selalu “update”. Tidak ada lagi nada bicara Mpok Nori yang selalu khas keluar dari mulutnya.
 KRUCIL in Pekalongan
Bay, Krucil disini menunggu engkau kembali… Jangan membuat kami menunggu lama, dan jangan buat penantian kami sia-sia. Kami tidak butuh oleh-oleh makanan ataupun minuman dari perjalananmu. Kami tidak butuh traktiran dari perjalanmu. Yang kami butuh hanya, Abay yang selalu bisa membuat sahabat-sahabatnya tersenyum, bahagia, dan merasa damai bersamamu.
Doa kami, semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya, diberikan kemudah dalam segala urusanmu oleh-Nya, dan diberikan yang terbaik buat hidupmu oleh-Nya.
Amin Allahumma Amin…
No Comments »
Dari Jakarta rombongan langsung masuk tol Fatmawati, terus lurus aja. Krucil juga nggak tinggal diam di mobil, sambil becanda Krucil ngelipetin sisa brosur yang ada. Sedangkan Abay sibuk jemurin bajunya yang belum kering di jok belakang mobil. Krucil sempet liat pak Untung mendahului mobil kami sambil membunyikan klakson. Pak Untung memang harus segera ke Lembah, karena harus nganter Ayodya (anak Bokap) ke kampusnya.
Ketika sampai didaerah Pondok Gede, ada sebuah kejadian lucu. Ceritanya didaerah itu ada belokan, yang kalau kekiri arah Cawang dan keluar tol, sedangkan lurus itu adalah jalan yang baru dibangun langsung kearah Bekasi. Tiba-tiba mobil box yang berada dibelakang ngebut dengan kecepatan tinggi, dan ketika sampai didepan langsung melambaikan tangan tanda ia ingin belok kekiri. Mobil-mobil yang berada didepan langsung memberikan jalan, kami pikir ia hanyan mau memberikan isyarat untuk pelan, tapi ternyata tidak, ia ingin keluar lewat jalur kiri yang mengarah ke Cawang, sedangkan rombongan jalan lurus kedepan tanpa belok, karena jalan yang baru jadi itu bisa langsung menuju Jateng. Dengan spontan supir yang mengendarai mobil box langsung ngerem dan kembali ke jalur semula. Semua penumpang rombombongan pun tertawa terbahak-bahak, karna mikir itu adalah sebuah hasil dari orang yang sok tahu berujung malu.
Diperjalanan gw sempet tidur, jadi agak lupa masuk di Tegal itu jam berapa, tapi gw sempet mendusin di Cirebon lalu tidur lagi. Sampai di Pemalang, rombongan langsung masuk penginapan, dan langsung nurunin barang-barang, tapi Krucil nanti aja nuruninnya, coz masih pengen santai dulu sambil nge-rokok. Gak lama kemudian kami makan di Restoran lesehan penginapan, dan ternyata Ibu Poppy Dharsono kenal dekat dengan pemilik penginapan, jadi suasana tambah akrab.
Setelah selesai makan, Krucil langsung menurunkan barang dan memasukannya kedalam kamar. Satu kamar kami diisi 5 orang, Ucil, Gw, Abay, Ajid, dan Mbah. Sampai malam tidak banyak yang Krucil lakukan, kecuali sempet hang-out ke kota, sambil melihat-lihat situasi dan arsitektur kota Pemalang.
Ada pengalaman lucu ketika Krucil ke kota. Waktu masuk ke sebuah Mini Mart, ceritanya niat Krucil hanya ingin membeli perlengkapan mandi, tapi tiba-tiba, seperti orang kesetanan, Krucil mengambil barang ini-itu, sedangkan Reno belum sadar kalau Krucil ngambil barang sudah melewati target, karena dia asik menggoda kasirnya. Nah, dia baru sadar ketika sudah mulai di scan 1 per 1 barang yang ada. Ternyata jumlahnya melebihi kapasitas yang kami bisa bayar, akhirnya, dengan perasaan malu-malu + muka tembok, Reno berkata kepada kasirnya:
Reno : “mbak, ini bisa di cancel ndak?”
Kasir: “bisa koQ mas…” dengan wajah sedikit mengejek. Maklum orang sini taunya kan kami orang Jakarta, orang Kota.
Reni: “ya sudah mbak, kalo gitu kurangin” dengan gaya sedikit merayu.
Akhirnya kasir itupun mengurangi jumlah barang yang sudah kami ambil, sedangkan Krucil cuma ketawa-ketawa aja di luar Mini Mart tersebut. Dalem hati Reno “bikin malu orang kota aja nie…” he3x…
Setelah selesai belanja di Mini Mart, kami melanjutkan perjalanan ke jantung kota, karena gw butuh senar buat gitar yang kami bawa. Sampai di kota, sambil nunggu gw beli senar, Reno sempat tanya-tanya ke tukang parkir setempat soal pemilihan calon-calon di daerah Pemalang tersebut. Bahkan dia bertanya siapa saja calon yang paling kuat disini.
Setelah selesai, kami tidak langsung pulang, tapi sempet nongkrong di sebuah Plaza Dedy Jaya (tapi kalo orang setempat bilang seh itu Mall Dedy Jaya, tapi karena tempatnya tidak terlihat seperti Mall dimata kami, jadi kami bilang Plaza), disitu tidak banyak yang kami lakukan, kecuali menggoda wanita, cuci mata, beli es susu coklat diatas, dan sempet kongkow sambil nge-rokok di teras depan Plaza. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Alun-Alun sambil mendengarkan Lagu Band NAFF di mobil.
Pulang dari alun-alun kami melewati Mini Mart yang tadi, Reno sempat memberhentikan mobil sambil memperhatikan kasirnya, ketika kasirnya melihat, Reno dan Krucil melambaikan tangan sambil sedikit mengejek, dan si Kasir menggerkan mulut yang kalau diartikan adalah… “APA LUU…!!” Serentak kami semobil pun tertawa terbahak-bahak. Mungkin dalam benak sang kasir seperti ini “ngaku orang kota, belanja aja pake dikurangin, dasar gaya doang Luu…”
Sampai dipenginapan Krucil sempat makam malam bersama rombongan. Selesai makan, Ibu Iing Anwarini mengajak anak-anak untuk main musik menghiburnya sambil bercerita pengalaman mudanya. Setelah agak malam datang mas Ari (mantan anggota KPU Jateng) yang ikut nimbrung sambil bertanya-tanya bagaimana Krucil terbentuk. Setalah jam menunjukan Pkl.01:00 baru kami semua bubar. Gw, Abay, dan Ajid langsung ke ranjang untuk nonton acara musik di Tv sambil menunggu mata tertutup sendiri, sedangkan Ucil masih menikmati malam Pemalang di teras luar.
No Comments »
Akhirnya jadi juga berangkat, ya walupun sempat tertunda 1 hari. Pada hari rabu anak-anak Krucil sempat melakukan persiapan, seperti nyiapin baju, nafas, doa, dan pamitan. Habis melakukan itu semua di Lebax’s City, Krucil pun berangkat ke Bukafe, dan disana bertemu dengan Taryono (salah satu staff Bukafe), dia mengatakan “pada mau ke Semarang ya?” Krucil pun dengan kompak menjawab “iya”, trus dia melanjutkan pembicaraan dengan berkata “kayaknya besok deh, kan tgl 14 besok, hari kamis”. Krucil serentak terdiam, Barnas, satu-satunya yang pegang Hp saat itu langsung liat kalender di Hp-nya, dan ternyata benar, tgl 14 itu besok. Akhirnya dengan rasa ke-optimisan + PD yg sangat tinggi, Krucil tetap santai sambil berkata “mungkin…”.
Krucil di Bukafe sampai malam, baru sekitar jam 8, nyokap (Ibu Iing Anwarini) menelepon Barnas, terjadilah percakapan diantara mereka berdua:
Nyokap : “kalian dimana?”
Barnas : “di Bukafe Bu…”
Nyokap : “berapa orang yg berangkat?”
Barnas : “4 orang Bu…”
Nyokap : “ada Taryono ndak disitu?”
Barnas : “tadi sore ada Bu, tapi dia pergi, dan belum kembali sampai sekarang”Nyokap : “jadi begini, kita berangkat besok pagi, kalian mau berangkat dari Lembah, atau dari Bukafe? kalo dari Lembah, malam ini juga kalian ber-4 ke Lembah, tapi kalau dari Bukafe, besok pagi-pagi sehabis Shubuh, kalian kerumah Ibu Poppy Dharsono. Jadi kalian mau berangkat dari mana?”
Barnas : “dari Lembah aja Bu…”
Nyokap : “kalau gitu, tunggu taryono dulu, soalnya dia sedang nyetak Brosur-nya”
Pembicaraan pun berakhir ditengah mendungnya malam kamis itu. Krucil pun berkumpul, mendengarkan Barnas yang sedang menyampaikan hasil percakapan dengan Nyokap barusan, hasilnya, semua sepakat. Lalu Krucil kembali bersenda-gurau ditengah gerimis-nya malam…
Selang beberapa jam kemudian, Taryono muncul dengan membawa 1 kardus Brosur, yang berjumlah sekitar 2000 lembar. Tidak lama kemudian Nyokap, Reno, dan Mbah “Supri” datang dengan kendaraan Honda City milik Reno. Kami semua pun mulai bersiap. Setelah melipat beberapa Brosur yang akan dibagikan, Krucil memasukannya kedalam mobil Reno, sisanya nanti dilipat di Lembah. Lalu Nyokap memberikan Akomondasi Transport untuk ke Lembah (jumlahnya ndak usah disebutin ya, coz rahasia Alam… ;P) Nyokap menyuruh Krucil naik taksi saja, tapi Krucil sepakat untuk naik angkutan umum saja, biar lebih irit sedikit katanya… Setelah selesai menaruh barang-barang didalam mobil, rombongan Nyokap + bang Hamid pun berangkat ditengah hujan yang lumayan deras, sedangkan Krucil menunggu hujan sedikit reda sambil bersenda-gurau lagi.
Didalam Bukafe, Krucil sibuk mempersiapkan diri menghadapi hujan dimalam itu. Ucil, sibuk membungkus tasnya dengan kantong plastik agar tidak basah terkena hujan. Bahkan dia melepas sepatunya alias “Nyeker” agar sepatu pelengkap gayanya itupun tidak terkena hujan. Abay pun berniat demikian, tapi dia tidak jadi, karna melihat hujan diluar sudah mulai reda. Sedangkan Barnas & Ajid, tetap enjoy dengan rasa dinginnya malam itu.
Krucil pun berjalan ditengah gerimis malam itu. Yah, walaupun gerimis, tetapi tidak mematahkan semangat Krucil untuk terus melanjutkan perjalanan ini. Tapi sebelum berangkat, Krucil tidak lupa untuk berbagi rejeki dengan Krucil yang ada di Bukafe dengan membeli rokok untuk Robby dan Adi “Dewa”, walaupun tidak sebungkus-sebungkus, tapi lumayan lah untuk menghilangkan rasa dingin mereka. Dijalan pun tidak banyak yang Krucil lakukan, selain bersenda gurau sambil menghisap rokok.
Sampai di perempatan Buncit, Krucil menunggu Bus Metromini 75 sambil memandang orang-orang yang sedang menyantap ketupat sayur sehabis pulang kerja. Tidak lama kemudian Bus yang Krucil tunggu tiba, Krucil segera naik dengan badan sedikit basah. Didalam Barnas sempat meledek Ucil yang duduk didepan dengan berkata “bang, yang duduk didepan tuh yang bayar” diamini dengan tertawanya Abay & Ajid.
Sampai Pasar Minggu Krucil tahu bahwa Angkot Miniarta 04 sudah habis, jadi Krucil memutuskan untuk naik mobil Angkutan Malam, atau biasa disebut “Mobil Kalong”. Tapi, sebelum Krucil naik, Krucil menghabiskan rokok yang masih sisa setengah batang itu, baru setelah mobil penuh dengan penumpang dan siap berangkat, Krucil naik dibelakang sambil gelayutan. Karna kalau didalam kasian penumpang yang lain, takut kebasahan kena baju Krucil. Dimobil pun Krucil lagi-lagi diguyur air hujan, kali ini tidak kecil, tapi lumayan besar, sehingga tambah lepek aja itu baju. Tapi tetep, bercandanya tidak ketinggalan…
Sampai di Depok, Ucil punya usul untuk mencari tukang gorengan, akhirnya Krucil jalan kaki, dari “Ex” Ramanda sampai depan terminal Depok. Tapi karena sudah larut malam, jadi tidak ada tukang gorengan, kalau kata tukang rokok sih, mereka sudah pada pulang semua pada jam segitu. Setelah beli cemilan dan rokok di warung itu, Krucil langsung naik mobil Angkot 06, kali ini Krucil bisa duduk, karena memang disediakan tempat duduk (mank tadi di mobil Kalong gak disediain apa… emang dasar loe-loe pada kaga mau duduk aja… ).
Krucil turun di Lembah, langsung berlarian masuk ke komplek perumahan itu, bergegas cepat sampai, karena sudah tidak tahan mau istirahat. Sampai dirumah “Aneh”, Krucil langsung menaruh tas dan mengeluarkan cucian kotor, terutama Ajid, Barnas & Abay yang pakaiannya belum mereka cuci, maklum, kalau di Lembah kan nyucinya pake mesin, jadi gak terlalu capek dan cepat keringnya. Selesai mencuci Krucil langsung melipat Brosur yang tersisa sambil menunggu pakaian kering.
Hingga Azan Shubuh berkumandang, Krucil masih tetap terjaga, tidak ada yang tidur sama sekali karena merasa tanggung untuk tidur. Tidak lama kemudian Nyokap sudah bangun, dan mengeluarkan barang-barang yang harus dibawa ke Semarang, Pak Untung pun sudah sampai, langsung memanaskan mobil Nissan X-Trail yang akan mengantarkan kami ke Pondok Indah, rumah Ibu Poppy Dharsono.
Setelah semua barang siap, kami langsung berangkat dengan 2 mobil, yang 1 X-Trail dengan penumpang Nyokap, Reno, Mbah, dan Pak Untung. Sedangkan satunya lagi Taksi, dengan penumpang Krucil, nama yang sudah tidak asing lagi di Bumi Ibu Pertiwi ini… ;P
Sampai dirumah Ibu Poppy Dharsono, terlihat rombongan mereka sudah siap untuk berangkat. Krucil melihat ada 4 mobil disitu, ada LandCruiser, Xenia, Bus 3/4, dan satu mobil Box yang membawa perlengkapan seperti, Kalender, Sticker, dan Kartu Nama Ibu Poppy Dharsono. Kami pun langsung bergegas menurunkan barang-barang untuk dipindahkan ke mobil rombongan. Setelah selesai, Krucil sempat dikasih rokok DjiSamSoe sebatang-sebatang oleh Pak Untung sambil berkata “puas-puasin loe pada ngerokok disini, tar didalam mobil kaga bisa ngerokok loe…”. Ya, memang benar di mobil tidak bisa merokok, sebab ber-AC. Lagi-lagi Krucil bercanda, kali ini ditemani Pak Untung, sambil menunggu rombongan Ibu Poppy Dharsono menyiapkan barang bawaanya. Setelah semuanya siap, 4 mobil rombongan pun berangkat, menuju Semarang.
Tunggu Krucil Semarang, karena sebentar lagi kita akan saling merasakan perjalanan hidup ini… Cah Yoo KRUCIL…
No Comments »
Malam ini KRUCIL baru aja dapet perintah dari Bokap “angkat” KRUCIL (Hermawan Sulistyo), KRUCIL diperintahkan ke Semarang, tugas ini diberikan untuk 4 orang yaitu, Barnas, Ucil, Abay, dan Ajid yang Insya Allah akan berangkat pada tanggal 14-Januari-2009.KRUCIL ditugaskan untuk membantu salah satu sahabat dari Bokap, yaitu Mbak Poppy Dharsono. KRUCIL juga belum jelas seh apa tugas disana nanti, yah paling” membagi-bagikan selebaran/brosur.
Yang jelas KRUCIL gak akan melewatkan pengalaman baru ini…
Sebelumnya Barnas dan Helmi pernah kesana juga seh sama keluarga Bokap, tapi itu mudik Lebaran 2 tahun lalu, itu juga mereka cuma singgah disana selama 2 malam, dan lumayan banyak pengalaman yang mereka dapet. Seperti jalan-jalan ke Lawang Sewu, Museum Jendral Cheng Ho, Hotel Horison Simpang Lima, dan makan disebuah restoran Pantai yang penulis lupa namanya.
Sebenarnya Barnas dan Ajid ada urusan SIDANG TILANG di Bandung pada tanggal 16-Januari-2009, tapi karna ini perintah langsung dari Bokap, dan dikarenakan ke Bandung juga udah sering (bilang aja kalian mau jalan2 he3x… ;P) mereka berdua memutuskan untuk memilih pergi ke Semarang saja.
Kalo alasan Abay, karena tidak ada kesibukan di Jakarta, dan dia juga ingin mendapatkan pengalaman baru ini.
Sedangkan Ucil sebenarnya bentrok dengan acara latihan BreakDance-nya, tapi setelah KRUCIL desak untuk mau ikut, dia setuju juga, secara dia kan KETUM, masa ndak mau ikut.
Kali ini KRUCIL diberi kesempatan untuk balik lagi kesana, yang jelas sudah ada pengalaman baru yang menunggu KRUCIL disana… So… sambut KRUCIL Semarang, dan jangan buat KRUCIL kecewa dengan penyambutanmu…
No Comments »
Hmmm… 
2009…
Sebuah angka yg jarang terpikirkan oleh kita…
Biasanya kita hanya memikirkan angka “1″, karna itu adalah angka juara, angka pertama, dan angka yg melambangkan “Berkuasa”…
Ada apa dengan 2009?
B 412 NAS juga tidak tahu…(makanya nanya…) :d
Paling2 yg kita tahu adalah, bagaimana mempersiapkan malam Tahun Baru yg berkesan, indah, dan menyenangkan…
Biasanya kan malam2 tahun baru yg sebelumnya kita jalan2, nonton konser, ke pantai/puncak, atau kumpul bareng temen2…
ya… gak jauh dari keramaian deh…
Nah, KRUCIL niatnya mau mengadakan acara di BUKAFE…
Biasa, acara kecil-kecilan, Bakar Ayam/Ikan… :thumbup:
Maka dari itu, KRUCIL mengundang teman2 yg blm pnya acara, atau ingin kenal lebih dekat dengan nak2 KRUCIL, sharing bareng, nyanyi bareng, makan ayam/ikan bareng, atau mungkin lagi nyari pacar :p , untuk ikut kumpul bersama pada hari:
Rabu
Dari Pkl 20:00 sampai Selesai
bertempat di BUKAFE, Jln. Duren Tiga Raya No.6A (dekat RS.Asri)
Mudah2an acara ini menjadi acara yg Positif, Menyenangkan, Menghibur, Berkesan, dan tidak terlupakan… 
No Comments »
Bukan, maksud hatiku
Acuhkan dirimu
Didepan mataku
Tapi ku tak bisa lupakan
Saat dirimu membuat
Diriku terhina
Sakit hatiku
Remuk jantungku
Untuk membencimu
Musnahkan cintaku
Bukan, maksud hatiku
Redam senyumku
Saat kita bertemu
Tapi ku tak bisa singkirkan
Enyahkan fikirku
Diriku terluka
by: Andra & The Backbone
Gak tau kenapa, gw bisa merasakan perasaan itu tadi malam dari pukul 21:00 sampai 22:00. Tapi ketika “dia” sms gw, dan mengatakan bahwa seakan-akan dia akan pergi meninggalkan teman2 gw, gw langsung PERIH rasanya, karna gw sangat sayang, suka, dan cinta “dia”. “Dia” tidak menjelaskan alasan mengapa “dia” mengatakan itu, “dia” cuma bilang bahwa “dia” harus merubah sikapnya. Tapi apa harus meninggalkan teman2 gw?
Gw gak tau harus berkata apa lagi untuk menyakinkan “dia” bahwa gw itu sangat….sangat…. dan sangat…. sama “dia”. Gw gak mau kehilangan “dia”, dan juga gak mau membuat “dia” tersakiti, entah itu badannya, hatinya, bahkan jiwanya.
Sungguh, Gw sayang banget sama “loe”………….!!!!!!!!!!!!!!!
No Comments »
Ketika rasa bosan menghampiri dan berkecamuk di dada, maka tidak ada lagi perasaan untuk mempertahankan rasa itu sendiri. Dan ketika ketidakpuasan terhadap sesuatu yg itu2 saja, maka kita ingin sekali merubahnya. Tapi ketika perubahan itu datang, kembali rasa tidak puas timbul lagi. Kenapa? Kenapa manusia slalu tidak merasa puas? Kenapa mereka slalu menginginkan sesuatu yg lebih? Padahal mereka pertama yg ngotot harus ada “perubahan”. Memang perubahan itu tidak sesuai dengan apa yg kita harapkan, bahkan malah menambah masalah yg makin hari makin tidak karuan dan sulit di kontrol. Siapa yg harus bertanggung jawab dengan “perubahan” ini?
Kita? Mereka? atau Dia? yg jelas hanya waktu dan “kejadian” yg dapat menjawab itu smua. Mengapa harus Golput untuk menjawab itu smua? Padahal Golput adalah sebuah gerakan yg tidak menghasilkan apa2, tapi justru sebaliknya hanya membuat kita merasa aneh dan asing. Disaat orank2 sedang “berpesta” kita hanya mampu menonton, disaat orang “berfoya-foya” kita hanya mampu melihat. Tapi, ada kepuasan tersendiri di dalam dada ini ketika mereka mempertanyakan kita “mengapa mereka Golput”, itu tandanya kita sudah berhasil membuat mereka bertanya. Lalu siapa yg harus dijadikan pemimpin untuk kita yg Golput ini? Karna tanpa pemimpin, sbuah negeri tidak akan teratur…
Sebuah pertanyaan muncul lagi, padahal setiap pertanyaan adalah sebuah masalah yg baru, dan harus di selesaikan.
G O L P U T “Golongan Putih”

Dari kata-katanya saja kita harus sadar, bahwa kita harus benar-benar bersih atau “merasa” bersih untuk bisa mengatakan itu. Sering sekali manusia berkata “Saya ini bersih, tidak pernah terkena kotoran” padahal baju yang kita simpan di dalam lemari saja masih bisa terkena kotoran, walaupun hanya rontokan kayu dari lemari. Jadi harus manusia seperti apa yang bisa dikatagorikan sebagai GOLPUT? Kalau dia masih tergoda ketika “seseorang” menawarkan uang yang besarnya cuma bisa buat beli HP + Pulsa & Kartu Perdana yang katanya bisa SMSan gratis ke semua Operator, kalau dia masih tergiur oleh wanita yang biasa “dia” sendiri memanggilnya “Jablay”.
Tidak gampang mengkritik seseorang, kalau kita sendiri saja masih banyak yang harus di “kritik”. Tidak gampang menjadikan seseorang sadar, kalau kita sendiri saja masih belum sadar.
Tapi didalam lubuk hatiku yg paling dalam hanya bisa berteriak…
KETIKA ADA PENINDASAN, HANYA ADA SATU KATA…. L A W A N . . . . ! ! !
No Comments »
Mengapa engkau mau “datang” dalam hidupku, bila cuma ingin “pergi” lagi…
Mengapa engkau mau “hadir” dalam bayanganku, bila engkau akhirnya “samar2″ ketika ku mulai memakai “kaca pembesar” untuk melihatmu…
Mengapa engkau mau “menerima” sebuah ungkapan hatiku, bila engkau akhirnya “memuntahkan”nya…
Mengapa engkau mau “mengatakan” sayang di telingaku, bila engkau hanya “berbisik” di sebuah telinga yg kurang pendengaran ini…
Dan mengapa engkau mau “menjalani” hidup ini bersamaku, bila engkau tak mau kuajak “berjalan” diatas kerikil tajam yg menjumpai kita setiap saat…
Cinta, sayang, dan kasih kau berikan sementara hanya untuk membuat ku berharap banyak terhadap mu…
Sementara, setelah ku banyak pengharapan terhadapmu, engkau pergi begitu saja meninggalkan ku…
Tapi, biarlah itu semua berlalu…
Biarlah itu semua pergi…
Karna ku juga masih mencari jati diri ku, agar suatu saat, aku sudah siap menghadapi hal seperti ini…
Terima kasih sayang, terima kasih…
Karna kau sudah memberikan suatu pengalaman yg sangat berharga terhadapku…
ILYSM (I Love U So Much) itu dulu… dan kini
ILYMN (I Love U My Nostalgia)… karna engkau sudah menjadi kenangan di dalam hidupku dan juga hatiku…
No Comments »
Gw seneng banget pagi ini…. Bisa menjalankan Shaum lagi… Gw harus berterima-kasih sama Adi "Dewa", because dah bangunin gw, walaupun dia orang kedua yg bangunin Gw (yg pertama bang Kadar), tapi karna suara dia, gw jadi bangun…. Thanks To "Dewa", you my "second" friend…. (karna yg first, si UCIL….)
Dan yg paling menyenangkan adalah, Gw bisa sholat shubuh + dzikiran (jadi inget di Ceweng, i love Ceweng Forever…), entah gw lagi kena "syndrome" apa, tapi yg jelas gw jalaninx penuh semangat banget…. yah walaupun jam 8 nanti gw bakalan capek…
Selesai "mengemis", gw beranjak ke ruang "maya", karna disana gw akan "berimajinasi", sambil puter lagu UNGU dengan speaker sound yg gw stel keras2 (cie…cie… yg punya mp3 baru, he3x…KREDIT bro…)…
Ku tulis ketika matahari mulai tersenyum kepada BUKAFE324 and sekitarnya, sambil mendengarkan UNGU yg SEJAUH MUNGKIN dipadukan dengan suara Adi "DEWA" yg sedang telp Cw "khayalanx"…. Thanks for Allah, and my big family…KRUCIL
No Comments »
 kenapa ya, harus ada pengkhianatan?
var curDiv = document.getElementById(’ln0′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}
setapi kali kita sudah percaya dengan seseorang, entah itu teman, sahabat, kolega, kerabat, pacar, bahkan musuh sekalipun.
var curDiv = document.getElementById(’ln1′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}
pasti ada sesuatu yg mereka sendiri pun tidak bisa menjelaskan knp mereka berkhianat, bahkan untuk hal yg sepele.
var curDiv = document.getElementById(’ln2′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}
biasanya awal pengkhianatan dari cemburu, perut, dan egois.
var curDiv = document.getElementById(’ln3′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}
var curDiv = document.getElementById(’ln4′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}
ketika
seseorang cemburu akan sukses, cantik, ingin mendapatkan apa yg
seseorang dapatkan, ia pasti akan berhianat dengan menjelek2kan orang
tersebut, atau menjadi "penjilat"
var curDiv = document.getElementById(’ln5′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}
var curDiv = document.getElementById(’ln6′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}
ketika
seseorang lapar, ia rela mengorbankan nama baik teman ataupun
keluarganya untuk mendapatkan sesuap nasi, bahkan ada syair yg
mengatakan "manusia sama saja dengan binatang selalu perlu makan, namun
caranya berbeda dalam memperoleh makanan, tapi kadang kala ada manusia
seperti bintang, bahkan manusia lebih keji dari binatang… tampar kiri
kanan alasan untuk makan, padahal semua tau dia serba kecukupan…intip
kiri-kanan lalu curi jatah orang, peduli "sahabat kental" kurus kering
kelaparan…"
var curDiv = document.getElementById(’ln7′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}
var curDiv = document.getElementById(’ln8′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}
dan
ketika seseorang egois, apapun akan dia lakukan untuk mendapatkan
sesuatu yang "harus" dia dapatkan, bahkan dengan mengorbankan negara
dan rakyatnya.
var curDiv = document.getElementById(’ln9′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}
var curDiv = document.getElementById(’ln10′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}
tapi,
dibalik kata "pengkhianatan" pasti berakhir dengan kata "minta maaf"…
apa perlu kita "memaafkan" seseorang yang "berkhianat" ?
var curDiv = document.getElementById(’ln11′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}
var curDiv = document.getElementById(’ln12′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}
ya,
kita harus memafkan mereka, walau ada pepatah mengatakan "kesempatan
tidak datang 2 kali" tetapi terkadang kita harus memberikan seseorang
itu kesempatan, entah itu 1x, 2x, bahkan 1000.000.000x pun kita harus
memberikan.
var curDiv = document.getElementById(’ln13′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}
(Allah saja memaafkan umatnya yang melakukan kesalahan, masa kita sebagai manusia biasa tidak memaafkan sesama manusia…)
var curDiv = document.getElementById(’ln14′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}
var curDiv = document.getElementById(’ln15′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}
tapi
semua itu berangkat dan kembali kepada hati dan diri kita masing2…
sejauh mana kita akan menjadi " pengkhianat" dan sejauh mana  kita
" memaafkan"…
No Comments »
|